GUSTI ALLOH ORA SARE

Yu Tinah kami kenal karena kami sering ketemu ditaman . Dia telah sembilan tahun meninggalkan kampong halaman dan keluarganya untuk memperbaiki nasibnya di negeri ini(Singapore).
Dia akan segera menghampiri keluarga kami kalau kami berada ditaman kemudian akan bicara dengan gaya jawa Tegal yang medok dengan isteri saya atau bicara Singlis(Singapore English) dengan cucu-cucu saya.Kalau dia bercerita tentang hal hal yang lucu-lucu dia malah lebih dulu tertawa ketika ceritanya disampaikan Tertawanya itulah yang membuat kami tertawa, sedang ceritanya tdk pernah kami mengerti. Kadang kadang kami larut dengan perasaannya setiap kali dia menceritakan anak2 dan keluarganya dikampung. Betapa sulitnya hidup dikampungnya. Untuk minum saja dia harus antri mendapatkan air bersih. Melihat anak anaknya yang rajin sholat subuh dan kemudian belajar dipagi hari , kemudian penuh semangat bersekolah dengan bertelanjang kaki, perasaan keibuannya tidak dapat membiarkan buah hatinya, berjoang sendirian menghadapi kehidupan. Suaminya sudah mencoba berkali kali untuk mencari pekerjaan ,tetapi betapa sulitnya mencari pekerjaan dinegeri yang kaya ini. Akhirnya dia memutuskan , dialah yang harus mencari pekerjaan dinegeri Singapore.
Tidak setiap tahun dia pulang kampong karena dana yang dia kumpulkan sangat diperlukan untuk biaya keluarga dan sekolah anak2nya.Sembilan tahun berjoang dinegeri orang demi cita cita yang besar. Tiap sen dia kumpulkan dengan penuh kehati hatian. Tiap Senin dan Kamis dia puasa
Ketika tahun lalu kita bertemu, hampir setiap saat dia menceritakan tentang anak tertuanya yang sudah hampir menyelesaikan sarjananya. Dan setiap selesai bercerita dia tidak pernah lupa mengucap puji syukur yang dalam kepada Allah. Sambil mengulangi kata-kata bijak dari orang-orang tua dikampungnya ….”Gusti Alloh ora sare”.Kamipun tanpa ada komando serentak mengucap Amiiiiiiiiiiiin. Ada harapan besar yang tidak pernah dia ceritakan kepada kami, dan kamipun tidak pernah mengusiknya.
Dan hari ini,hari Minggu, setelah delapan bulan kami tidak ke Singapore ketika kami sekeluarga ke taman yu Tinah tidak datang menghampiri kami dan terasa ada yang kurang dalam suasana di taman. Maka kamipun mencarinya.Ternyata yu Tinah sudah tiga bulan yang lalu pulang ke tanah air dan tidak akan kembali lagi ke Singapore. Ya yu Tinah tidak akan kembali ke Singapore dia akan ke Amerika. Bukan untuk menjadi TKW ( Tenaga Kerja Wanita) di Amerika tetapi untuk menyertai putranya yang mendapat bea siswa mengambil S2.
Duh Gusti Alloh ora Sare( Duhai Alloh Yang Rachman Paduka tidak akan pernah melupakan hambamu yang mohon pertolongan)
Yu Tinah sudah tidak bersama teman2nya ditaman lagi ,juga tidak bersama saya lagi, tetapi auranya tetap menyertai kami dan kawan2nya. Memotivasi teman-temannya tanpa theori motivasi. Membangkitkan semangat kami tanpa kami sempat berterima kasih kepadanya. Kami percaya pada tahun tahun yang akan datang akan banyak Yu Tinah yu tinah lainnya karena semangatnya telah merasuk ke jiwa jiwa temannya. Selamat jalan Yu Tinah dan ingat GUSTI ALLOH ORA SARE
(Orang-orang seperti yu Tinah itulah yang di Singapore dikenal dengan study mama. Dan sejak beberapa tahun yang lalu meramaikan dunia pendidikan di Singapore.Kalau yu Tinah melakukan dengan diam-diam dan doa, tidak demikian dengan rekan-rekannya dari daratan China(Main Land),mereka datang dalam kelompok kemudian menyewa apartemen bersama-sama. Mereka bekerja apa saja ,dan biasanya setelah satu tahun mendatangkan putra atau putri untuk bersekolah di Singapore. Trend itu saat ini juga mulai diikuti oleh ibu dari Korea dan Jepang. Mereka melakukan terobosan untuk mendapatkan pendidikan yang baik bagi putra-putrinya.Karena Singapore merupakan tempat pendidikan berbahasa Inggris yang murah.
Barangkali Semangat untuk mendidik putra putrinya setinggi mungkin itulah salah satu pilar yang menyebabkan negara2 itu sangat maju. Bukankah Rasullah telah menuturkan,betapa pentingnya peranan ibu bagi generasi yang akan datang.)
