Beranda > BERANDA > SECANGKIR TEH MANIS DI PAGI HARI

SECANGKIR TEH MANIS DI PAGI HARI

RUMAH DUBES INDONESIA DI LONDON(17 aGUSTUS 1995)

RUMAH DUBES INDONESIA DI LONDON(17 aGUSTUS 1995)

Pada usiaku yang S2 (sampun sepuh),ketika perjalanan hidup telah begitu jauh, mengenang masa masa yang pernah saya lalui, rasanya seperti minum teh manis dipagi hari, terasa segar dan mengasyikan tetapi mungkin juga pahit tetapi menyembuhkan. Biklah , inilah pengalaman itu.

1.PUGUH DAN KAWAN KAWANKU DARI KALIBARU.

(Kenangan naik kereta api waktu SMP)

Mengenang masa sekolahku, ketika masih SMP dan SMA di Banyuwangi, sungguh menakjubkan apalagi jika aku  bandingkan dengan keadaan sekarang, kami pada saat itu sangat sederhana tetapi semangat kami luar biasa. Memang jika dibandingkan dengan keadaan sekolah sekarang kami pada saat itu sangatlah kurang, tetapi kami penuh semangat dan gembira ,dan menikmati sekolah pada saat itu.Inilah kenangan kenangan manis itu.

Pada tahun 1960, di Kabupaten Banyuwangi, hanya ada satu SMP Negeri dan SMA Negeri ,dan terletak di kota Banyuwangi. Saya  tinggal di Rogojampi, 15 km dari Banyuwangi. Karena itu saya berangkat dan pulang sekolah  naik kereta api. Abonemen istilahnya.

Dalam perjalanan itu ,saya mengenal seseorang kawan dari Kalibaru, Puguh namanya.

Badannya tegap, kulitnya putih, dan  rambutnya cepak seperti tentara. Saya pikir dia paling pantas untuk jadi tentara.Tetapi Tuhan berkehendak lain,salah satu tangannya ,mengecil? saya memang tidak akrab dengan dia. Tetapi saya sangat memperhatikan dia sejak saya tahu betapa gesitnya dia . Dia sangat percaya diri. Dan itulah yang saya peroleh dari dia.

Ketika saya  masih sangat sulit dibangunkan ibuku pada pukul 5 pagi, Puguh telah berada didalam kereta api yang membawanya ke Banyuwangi. Dia mungkin harus bangun jam 3 pagi, kemudian mandi, dan berjalan dengan cepat menembus gelapnya pagi untuk sampai di setasiun Kalibaru. Kereta berangkat dari setasiun Kalibaru pada pukul 4 pagi. Dan setelah itu mungkin berebut untuk mendapatkan tempat duduk yang enak, karena kereta akan semakin padat pada setiap setasiun yang disinggahi.

Coba bayangkan ketika kami yang berangkat dari setasiun Rogojampi masih kedinginan, anak yang berada di gerbong kereta api sudah makan es lilin,alangkah panasnya dalam gerbong itu.

Kami yang berangkat dari stasiun Rogojampi ,cukup bahagia berada di pintu kereta api, karena didalam sangat panas dan penuh sesak. Di luar kami bisa melihat pemandangan yang indah dan hembusan angin yang segar. Sesekali menepis api yang menabrak badan, maklumlah kereta api pada saat itu, menggunakan kayu sebagai bahan baker.

Kereta api akan sampai di stasiun Banyuwangi (lama), paling cepat pukul 6.30 pagi ,tetapi  lebih sering terlambat.

Setelah itu kami (ratusan siswa), berebut keluar dari gerbong kereta api dan berjalan setengah berlari dengan kecepatan penuh menuju sekolah masing-masing, minimal jaraknya 3 km.

Dan cobalah lihat Puguh, berjalan dengan perkasa, dan dengan sigap mendahului kawan kawannya, dan juga saya . Jalannya seperti berlari,dan tidak terlihat kelelahan dan tak terkejar, padahal jalan terus menanjak sampai di sekolah dan matahari pagi  sudah mulai panas.

Tidak sedikit dari kami,yang  menghindari panas matahari terpaksa mencari jalan terpendek,mengambil jalan pintas, melewati kampung tempat pelacuran.

Kalau kuingat itu betapa perkasa kawan kawanku, mereka harus bangun ketika kokok ayam belum terdengar dipagi hari,kemudian berdesakan di gerbong kereta api, panas dan sesekali harus menipis api dari pembakaran kereta api ( kereta api pada saat itu menggunakan kayu bakar) yang masuk dalam gerbong, kemudian melewati kampung pelacur….tetapi mereka ibarat ikan dilaut, meskipun hidup diair asin tetap tidak terasa asin

Waktu pulang sekolah pada saat itu, tidak pernah tepat. Kadang kadang pulang lebih cepat dari waktu yang seharusnya. Kadang pukul sebelas ,tetapi kebanyakan pukul 12. Kami tidak mungkin pulang dengan kereta api karena kereta baru berangkat pukul 14,00, maka kami harus mencari alternative lain untuk bisa cepat pulang kerumah.

Padahal kami jarang memiliki uang yang cukup untuk naik oplet (angkutan umum), jadi kami numpang  truk pengangkut barang, bercampur dengan barang barang yang ada dalam truk.

Tidak semua truk memahami kesulitan kami, kadang kadang truk itu harus kami paksa untuk mengangkut kami.

Dan betapa mengagumkan Puguh untuk hal yang satu ini…

Dia sudah tahu jenis  truk yang masih sejauh 400 meter dari kami, jenis truknya , warna truk, nomor truk dan  watak sopirnya,  dari mendengar suaranya. Mungkin karena saat itu jumlah truk tidak terlalu banyak dan mobil masih jarang. Tetapi betapapun aku kagum dengan dia, buktinya aku tidak pernah tahu  nomor mobil anakku pada saat ini.

Ketika Puguh , telah tahu truk apa  yang datang , kamipun bersiap siap mengikuti. Kalau dia katakana bahwa sopir truk orang yang baik dan mau berhenti, kamipun bersiap dengan santun ditepi jalan, dan seorang diantara kami akan menyetopnya. Dan ketika truk berhenti Puguh yang salah satu tangannya mengecil itu akan naik lebih dahulu, dan menolong kami., naik satu per satu keatas truk

Tetapi bagaimana kalau sopir truk itu tidak mau berhenti, maka Puguh  memberi tahu agar kami  menghadang truk tersebut dan ketika truk mulai mengurangi   kecepatan nya, Puguh dengan sigap  memegang tutup pintu belakang truk itu, dan kemudian dengan sigap melompat naik ke truk….dan dengan senyumnya dia melambaikan tangannya kepada kami yang terbengong bengong melihat keberaniannya. Dan kami akan menanti sampai ada truk yang berbaik hati untuk membawa kami pulang…. Tetapi kalau tidak ada , setelah menunggu  hampir satu setengah jam, maka kami akan berjalan dengan kecepatan penuh ke setasiun kereta api….dengan rasa gembira……

Puguh,  dan kawan kawanku salam untukmu  …….

2. PARA PENGAYUH SEPEDA DARI SILIRAGUNG DAN Ir.SLAMET

 

Tidak terlalu lama aku mampu mengikuti irama kawanku yang naik kereta api, mereka sungguh perkasa. Maka akupun indekost. Dan dari rumah Kost aku naik sepeda ke sekolah. Sepeda adalah kendaran mutlak pada saat itu. Mengingat sepeda saya teringat kawan kawanku dari Tegaldlimo, Siliragung.

Aku mengenalnya, karena mereka menggunakan bahasa kulon (gaya Mataram), bukan bahasa osing seperti kami. Karena ayah  saya orang Purworejo Jawa Tengah ( ibu asli Banyuwangi), saya  mengerti bahasa mereka, tetapi  karena ayah hanya mengajarkan bahasa kromo (bahasa halus , untuk menghormati yang tua, dan ayah saya  meninggal ketika saya  klas 1 Sekolah Rakyat) maka  saya hanya bisa berkomonokasi dengan bahasa campuran .

Mereka (kawan kawanku yang berasal dari Tegaldlimo, Siliragung) , adalah anak yang tekun ,santun dan pinter.

Setiap Sabtu sore , ketika saya  pulang ke Rogojampi dengan naik oplet saya  melihat kawan kawan dari Tegaldlimo dan Siliragung berrombongan naik sepeda dari Banyuwangi  menuju Tegaldlimo dan Siliragung, pulang ke kampung mereka . Pada hari  Minggu, disore hari terlihat rombongan mereka pulang ke Banyuwangi.

Rombongan akan sangat besar pada akhir bulan atau hari libur panjang.

Pada akhir bulan biasanya  pada sepeda mereka ada karung berisi beras atau hasil kebun lainnya.

Dari mas Zaelani, mas Damar,  yang berasal dari Tegaldlimo dan Siliragung aku tahu , bahwa jarak tempuh perjalanan sepedah  itu sampai 3 jam lebih. Sekali waktu aku mencoba pulang ke Rogojampi naik sepeda,  ya Allah …..betapa lelahnya.

Tetapi semangat mereka ,sungguh membakar semangat belajar saya……walaupun ketika SMA aku punya motor ZUNDAAF, kadang aku juga naik sepeda untuk memacu semangatku.

Aku bertekad suatu saat , saya harus ke Siliragung atau Tegaldlimo, aku ingin tahu kampung halaman mereka yang mencetak orang orang penuh semangat ini.

Dan alhamdulillah mas Zaelani ,mengajak  saya mengunjungi rumahnya di Siliragung.  Karena terbayang jauhnya , maka aku putuskan  naik sepeda  motor ZUNDAAF .

Subhannallah betapa jauhnya kampung itu, jalan beraspal yang baik hanya sampai  Cluring, dan setelah itu jalan tanah ….sungguh perjalanan yang berat.

Semalam berada di Cluring , aku semakin terbengong bengong betapa heibatnya desa ini. Didesa ini pada tahun 1964, telah banyak anak anak yang sekolah di Universitas GajahMada, dan salah satunya telah mencapai gelar Ir, yaitu Ir Slamet.( sekarang insyaallah sudah Proffessor)

Keinginan yang besar untuk tahu Ir,Slamet  itulah barangkali salah satu pendorong aku bertekad untuk sekolah di Universitas Gajah Mada.

Dan alhamdulillah ketika saya  bersekolah di Gajah Mada ,saya bertemu belaiu . Seorang yang santun dan penuh perhatian…..

Mas Slamet salam hormatku

Mas Zaelani, Mas Damar,  Salam kangen

Kategori:BERANDA
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: