Beranda > CERPEN > DIA YANG TERSUNGKUR DI MUSHOLLA TUA

DIA YANG TERSUNGKUR DI MUSHOLLA TUA

Sebagai seorang pebisnis yang berhasil,sebetulnya bhaktinya kepada ibunya,telah menjadi sanjungan orang. Uang bulanan selalu dia penuhi dengan baik malah tidak pernah kekurangan, tiap ada berita sekecil apapun dia akan segera datangi ibunya,dan setiap keinginan ibunya,tidak pernah dia tidak penuhi.

Begitupun ketika ibunya minta naik haji, diapun memenuhi dengan sukacita. Cuma ketika ibunya meminta agar dia mendampingi hajinya, rupanya kesibukan bisnisnya tidak memungkinkan. Ibunya cukup memahami dan hanya menyesali karena sebenarnya dia akan menceritakan betapa maha besarnya Tuhan.

Ketika ibunya meninggal, dia baru menyadari bahwa ibunya belum pernah membuka rahasia kebesaran Tuhan itu. Maka dia yakin kalaulah dia pergi naik haji ,barangkali kebesaran Tuhan itupun akan dia temukan di kota suci itu.

Seperti para penziarah kota suci lainnya, diapun menangis terisak isak ketika pertama kali melihat KAABAH,mencium Hajar Aswad,Menapaki Bukit SAFA DAN MARWA,SHOLAT SUBUH DI RHAUDAH,DAN TAFAKUR DI ARAFAH.

Semua ritual haji telah dia jalani dengan baik ,dan dari pembicaraan temannya dia tahu betapa maha besar TuhanNya? Tetapi dalam hatinya dia tetap bertanya ; Apakah ini yg akan diceritakan ibunya tentang  kebesaran Tuhannya ? Dia ragu.

Ketika dia melihat jutaan manusia berkumpul ditanah suci ,dan berada dibangunan Masjidil Haram  yang sangat megah,menyerukan kebesaraNnya di Hari Raya Idhul Adha, diapun bertanya  “ Apakah ini kebesaran TuhanNya yg akan diceritakan ibunya? Diapun ragu.Dia faham dan mengerti bahwa pendapat para penziarah itu amat benar .Tetapi dia tidak yakin bahwa itu yang akan diceritakan ibunya?.

Ketika dia pulang, diapun sibuk mencari sesuatu dikamar ibunya barangkali ada sesuatu  yang ditinggalkan untuknya. Tetapi sayang dia tidak mendapatkan apa-apa. Hari demi hari,bulan demi bulan gairah mencari jawaban itupun mulai hilang sedikit demi sedikit. Hanya sebagai muslim yang baik dia datang ke pengajian dari tingkat ulama kampung sampai ulama-ulama yang muncul di televisi atau kalau tidak sempat dia baca koleksi buku agamanya dari yang bahasa Indonesia ,Arab maupun Inggris, untuk memperdalam pengetahuannya. Hanya kadang-kadang terlintas dalam pikirannya bahwa kebesaran Tuhan yang akan diceritakan ibunya,masih belum ditemukan.

Hingga suatu saat ketika anaknya akan kuliah di Jogya dia teringat bahwa keberangkatannya dulu ke Jogya untuk kuliah diantar ke setasiun kereta api seperti mengantar orang haji. Memang begitulah tradisi dikampungnya.Setiap keberangkatan anak ke pesantren atau sekolah yang jauh selalu diantar rame2 seperti mengantar rombongan haji, dan tidak sedikit pakai isak tangis segala.

Teringat peristiwa  itu dia  tertawa tetapi kemudian perlahan lahan tawanya surut, dan air matanya keluar tak terasa.Alangkah sederhananya kebahagian pada saat itu? Maka bulatlah keputusannya untuk mengantarkan anaknya ke Yogya bersama seluruh keluarga demi menikmati kebahagian yang sederhana itu.

Dalam perjalanan ke Yogya ,ketika hasrat buang air kecil tidak dapat ditahan,maka dia putuskan berhenti di persawahan  yang ditengahnya ada gubuh reot dan ditepinya mengalir sungai kecil. Belum sampai hasratnya terlaksana seorang laki-laki tua dengan pakaian yang tidak jelas lagi warnanya tetapi sangat bersih keluar dari gubuh reot, yang ternyata musholla. Dia  menyampaikan salam dan bertanya, “ Bade sembahyang den, monggo! “. “Ya..ya pak”, Jawabnya spontan meskipun sebenarnya tidak terbersit sedikitpun dalam hatinya untuk sembahyang, dan sekarang dia sudah menyatakan ya untuk sembahyang maka dengan berat hati dia mengambil air wudhu di air sawah itu dan kemudian naik ke musholla tua.

Alangkah sejuknya musholla tua ini,angin sepoi-sepoi menerobos diantara dinding bambu yang sudah tidak nampak lagi warna putihnya, hatinya menjadi tentram, dan ketika ia melihat keluar, alam seakan memeluknya dengan mesra dan membiarkan angan-angannya melayang jauh ke angkasa ,menyertai ingatannya pada ayahnya yang selalu sembahyang di musholla kecil di sawahnya, dengan doa doa yang khusyuk untuk kebahagian anak anaknya..

Ketika dia bertakbir,ALLAHU AKBAR;Duhai Paduka yang Maha Besar,perasaannya tersentak, tiba-tiba sekujur tubuhnya mulai gemetar, secara perlahan bibirnya mulai gemetar dan bacaan ayat-ayat sucinya mulai terbata bata  dan perasaan kekagumannya pada Tuhan yang Maha Besar memeluk nuraninya”.  Oh Allahku, Paduka terima sembahyang ummatmu yang sangat sederhana di musholla tua, padahal untuk paduka telah didirikan mesjid yang megah yang dikunjungi ummatmu dari seluruh dunia,dikunjungi orang-orang  yang pintar, dikunjungi orang-orang yang kaaaaaaaaaayaaaaaaaa.Paduka tidak pernah membedakan ummatmu

Tangisnya tidak tertahan ,matanya sembab oleh air mata, napasnya sudah tersengal sengal . Bacaan rukuknya terbata bata ,terus sujud, dan bacaan sujudnyapun terbata bata, dan ketika dia bangun dari sujud dan mengucapkan Rabbigfirli, (Ya.rabb ampun ampuni) warhamnni,(sayangi hambamu).wajburni(tutupi kekuranganku), warfakniiiii(angkatlah derajatku) tangisnya tidak terbendung lagi ………Ya TuhanKu Paduka terima juga doa ayahku yang sederhana itu pada tempat yang sangat sederhana seperti ini.

Dia sadar sebagai anak yang terangkat derajatnya oleh doa doa ayahnya

Maka  disepanjang sembahyang itu dia mulai mengerti kebesaran Tuhannya , alangkah Maha Besarnya Paduka  duhai Yang maha Rachman dan Rachim, karena Paduka menerima doa orang orang yang sederhana ditempat yang sederhana juga

Alangkah indahnya perjumpaan in.i

Ketika dia mengucap salam istri dan anaknya duduk tafakur mendampinginya.

Dan si kecilpun nyeletuk; ” Pa kenapa pa ?,kita sudah lama disini”. Maka dia peluk istri dan anaknya sambil berkata  ”Anakku, ditempat sesederhana inilah kakekmu sering berdoa, ternyata Allah mendengar dan mengabulkan ………..betapa maha besarnya  Allahku . Karena dalam kebesaran dan kemegahannya Allahmu tetap menyambut doa orang yang sederhana……… seperti kakekmu”.

Kategori:CERPEN
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: