Beranda > TOKOH > DEDDY LUTHAN KADUNG KESEMSEM GANDRUNG WIS

DEDDY LUTHAN KADUNG KESEMSEM GANDRUNG WIS

GANDRUNG TH 1920

SIAPA DEDDY LUTHAN.

Nama lengkapnya HENDRAWANTO PANJI AKBAR LUTHAN. Menyimak namanya beliau setidaknya orang Jawa Timur ( Karena pakai Panji) . Menyimak pengetahuannya tentang Gandrung dan cintanya pada kesenian Gandrung, mestinya dia orang Blambangan atau setidaknya pernah  dibesarkan di  BANYUWANGI, ketemu oramgnya , dan bicara dengan bahasa Mentaram yang sempurna ( dakik-dakik), mestinya dia orang Yogja . Tapi sayang dugaan itu salah semua. Beliau lahir di Jakarta  , dari bapak dan ibu Padang, jadi orang Minang se asli aslinya.

MENGAPA  KESENSEM GANDRUNG

Menyelesaikan kuliahnya pada jurusan tari Institute Kesenian Jakarta. Sebagai seniman beliau sudah menjelajah dunia, Asean, Hong Kong, Amerika Serikat, Kanada dan tentu Eropa. Dan telah bersama menari dengan seniman kondang Sardono W.Kusumo’ Farida Feisol, Yulianti Paranti, S.Kardjono, I Wayan Diya, Retno Maruti , juga penari terkenal dari seluruh Nusantara. Adapun garapan tarinya telah mencapai puluhan.

Kecintaan pada tari tradisional daerah , membuat dia bergelut dan mengembara ke berbagai daerah Nusantara, Nias, Dayak Kalimantan, Aceh, Minang , Bali, Jawa timur utamanya Banyuwangi. Begitulah pengembaraannya dan akhirnya kesensem Gandrung Banyuwangi. Seorang kritikus tari Aryo Wisanggeni menulis. Kebudayaan Using /Blambangan yang ‘bukan Jawa”,” bukan Madura”, “bukan Bali” memesona pria kelahiran Bali.Pada tahun 1989 bersama para mahasiswanya, Dedy Luthan, keluar masuk kampung di Banyuwangi, memburu pementasan gandrung pada berbagai hajatan perkawinan di pelosok Blambangan. Berangkat sore pulang subuh. Kecintaanya pada Gandrung menular ke mahasiswanya. Dan Gandrungpun ( Kebudayaan Banyuwangipun ) menjadi  topik  skripsi mahasiswanya di Institute Kesenian Jakarta. Gandrung bagi bapak Dedy Luthan adalah mysteri. Dalam tradisi lain , penari ditempatkan sebagai anggota kelompok pertunjukan .Mereka menari mengikuti irama gamelan. Dalam Gandrung Banyuwangi/Blambangan, penari gandrung menduduki posisi sentral” Mereka selalu menjadi pemimpin kelompok, menari mengikuti rasanya sendiri, dan gamelan ditabuh mengikuti irama gandrung.

Gandrung Eng Tay.

Gandrung Eng Tay adalah hasil kelima explorasinya pada kesenian Gandrung , setelah Kadung Dadi Gandrung Wis ( 1990),Gandrung Salatun (1992), Iki buru Gandrung (1994), dan Gandrung Blambangan (1997).

Gandrung Eng Tay adalah Sendratari Eng Tay  dalam versi Gandrung sebuah sendratari  legenda cinta suci dari China , yang inti ceritanya sebagai berikut.

Eng Tay adalah gadis cantik putri kesembilan dari saudagar kaya di SHANG YU, ZHEJIANG , CHINA.Eng Tay ingin sekolah, karena sekolah pada saat itu hanya diperuntukan laki laki, maka keluarga kaya itu mengirimkan putrinya ke sekolah sebagai seorang lelaki. Dalam sekolah itu dia terkesan dengan seorang belajar yang tampan dan cerdas Sam Pek. Demikian juga Sam Pek, merasa berdebar debar kalau bertemu Eng Tay. Sebagai dua orang lelaki maka dia mengikat tali persaudaran kakak adik.Setelah menamatkan sekolahnya , barulah Eng Tay membuka kedoknya, sebagai seorang pelajar putri.Dan sebagai bukti cintanya Eng Tay menyerahkan kalung. Dan mengatakan pada Sam Pek jika  benar cinta padanya, Eng Tay mengharap Sam pek melamar pada keluarganya. Tetapi rupanya ayah Eng Tay telah menetapkan jodoh untuk Eng Tay. Oleh karena itu ketika Sam Pek melamar, ayah Eng Tay menolaknya. Sam Pek  tersungkur meratapi nasibnya ,sedih berkepanjangan , dan akhirnya meninggal dunia. Eng Tay tak terkira sedihnya. Maka untuk menghindari masalah yang berlarut larut , ayah Eng Tay segera menetapkan perkawinan Eng Tay. Dalam adat China , pengantin wanita  mendatangi rumah penganten pria . Ketika rombongan Eng Tay melewati makam  Sam Pek , tiba tiba terjadi hujan yang amat lebat disertai guruh. Lalu Eng Tay berlari menuju makam Sam Pek ,dan menangis mengungkapkan rasa cintanya. Tak Terduga makam Sam Pek terbelah membuka , dan Eng Tay melompat dalam makam itu, dan makam itupun tertutup kembali.Ketika hujan reda , sepasang kupu yang diyakini jelmaan Sam Pek Eng Tay terbang menuju langit biru.

Dengan cerita ini bpk Dedy Luthan , telah membawa kembali jati diri Gandrung sebagai kebudayaan China yang dibawa Laksamana Cheng Ho ke Blambangan. Gandrung adalah transformasi  cerita klasik China pada saat dynasti Ming, berjudul Shi Yu, karangan pujangga agung Wu Cheng.Dalam bahasa Inggris diterjemahan’ Journey to the west’  dalam cerita populer di daratan Asia Timur , dan Tenggara dikenal Sun Go Kong. Yang menceritakan perjalanan pendeta /bhiksu Thon mencari pencerahan sebagai pendeta Budha. (Baca Mysteri Gandrung , Sumono Abdul Hamid, Komonitas Sejarah Banyuwangi , 2011).                        Tetapi bapak Dedy Luthan juga membawa roh jati diri wanita Blambangan, yang penuh cinta kasih, dan cintanya abadi dan suci, seperti dibuktikan oleh Dewi Sekar Dalu, putri B lambangan  yang menjadi istri Maulana Iskak, atau putri Blambangan yang menjalankan Sati ( terjun dalam api Ngaben) pada Prabu Tawangalun, atau Sri Tanjung dengan cinta sucinya pada Pangeran Sidopekso, atau Dewi Surati   pada suaminya R.Banterang .

Sebuah cerita yang mengharu biru penonton. Terpesona , berurai air mata , tersenyum , dan bersorak gembira. Begitu syahdunya  pertunjukan ini, sunyi, memukau, tidak satupun penonton beranjak dari tempat duduknya, walau pertunjukan telah selesi.

Kategori:TOKOH
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: