Tidak bolehkah mereka exist di luar Indonesia?

Tempo edisi 12-18 November 2007 memuat tulisan-tulisan yang menggelitik untuk ikut serta memuat tulisan ini yang saya peroleh selama bergaul dengan saudara kita dari Jawa yg tinggal dirantau.(Singapore dan Malaysia). Tulisan yang saya maksud adalah; Saatnya menggugat Malaysia, Bawean; Nasi goreng dolar, Jembatan Budaya Serumpun. Tulisan-tulisan itu tentu berkaitan dengan maraknya kabar tentang penggunaan  kesenian Indonesia untuk iklan pariwisata di Malaysia..,dan bumbu  tambahannya.

Seperti halnya saudara-saudara kita dari Bawean, saudara-saudara kita dari Jawa ,Bugis , Padang/Melayu, Madura, dll banyak yang mengadu nasib di Negara tersebut, jauh sebelum Negara itu terbentuk  dan sudah beranak pinak di Malaysia dan Singapura, dan kemudian menjadi warga Negara yang baik di Negara itu. Mereka bukan saja mengadu nasib, tetapi juga ikut berjoang untuk mendirikan  Negara tersebut dan ikut membangun Negara tersebut sehingga maju seperti sekarang.

Sekecil apapun sumbangan mereka dan sekecil apapun jumlah mereka ,mereka juga ingin exist,seperti saudara2 mereka dari rumpun China dan India. Mereka akan berkaca-kaca  matanya kalau mendengar cerita-cerita sedih dari kampung halamannya dan akan tertawa terbahak-bahak kalau mendengar cerita lucu. Maka agar ikatan batinnya tetap terjalin dengan kampong halamannya mereka membawa segala  sesuatu dari kampong halamannya. Ada nasi jenganan (Penjualnya keturunan Madiun atau sekitarnya), wayang (pemainnya keturunan Jawa), reog (pemain keturunan Madiun , Jawa Timur), kuda lumping, keris, batik,campur sari, angklung, dan kendang kempul, serta  demi prestise maka diangkutlah buatan yang paling asli, dan paling  bagus ke Malaysia dan alangkah bahagianya kebudayaan itu  exist  di Negara itu dan bisa berdampingan dengan kebudayaan dunia ,China dan India, sementara dibuminya  kesenian itu hiduppun enggan matipun tak mau karena orang di Indonesia lebih senang dengan pakaian cow boy  dan gamish atau dangdut yang bukan India dan apakah Indonesia?

Sebagai orang yang ikut mendirikan dan membangun negeri  Malaysia dan Singapore mereka miris juga karena kebudayaan mereka  tidak pernah muncul di pentas-pentas hari Nasional tidak seperti kesenian China dan India , padahal di masyarakat Malaysia dan Singapore keseniannya itu hidup dengan baik .bagian yang tak terpisahakan dari upacara upacara rakyat.(Kuda LUmping Pengiring pengantin Singapore)

Pemimpin-pemimpin dan orang yang dihormati dari Malaysia dengan lantang menyebut asal usulnya, dari Jawa, Bugis, Padang, mengapa kebudayaannya tidak muncul di perayaan Nasional?

Ketika Malaysia mengiklankan Pariwisata  Truly Asia dengan latar belakang kesenian China, India, kok orang di India dan China sana nggah ada yang protes?

Dan bagaimana pendapat bapak dan ibu, kalau ketua pemuda Umno  disumpah dan dia mengangkat keris?

Kelompok oposisi di Malaysia menuduhnya terlalu Melayu, dan  Malaysia katanya tidak hanya melayu.

Padahal jika anda bertanya ke penduduk Melayu di Malaysia, keris apakah yang paling bertuah?

Jawabanya adalah keris MAJAPAHIT.(Keris Hang Tuah, dalam hikayat Melayu)

Tidak bolehkah mereka exist dinegeri lain dan keseniannya menjadi bagian yang tak  terpisahkan dan menjadi kebanggaan dari negeri tersebut seperti kesenian China dan India.?

Dia akan tetap menjadi warga negara yang baik ,tetapi juga ingin tidak terlepas dari asal usulnya

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: